Profesi system Librarian pada dasarnya dibutuhkan mulai dari perpustakaan kecil (staf kurang dari 5 orang) sampai perpustakaan besar. Sayangnya sedikit sekali lulusan ilmu perpustakaan yang mampu memiliki kompetensi pada level ini.
Pada umumnya yang memiliki
keahlian sebagai system Librarian lebih kepada hobi ketika mereka jadi
mahasiswa. Bukan karena by design yang disiapkan oleh prodi ilmu
perpustakaan. Dampaknya adalah, hanya 5-10% lulusan ilmu perpustakaan yang
memiliki kemampuan menjadi system Librarian. Itupun kalau di dalami lagi
dari yang ada tersebut tidak lebih dari setengahnya yang memiliki keahlian
setingkat senior system Librarian. Hal ini terjadi karena tidak terencana dgn
baik keahlian ini. Padahal kalau mengacu dengan kebutuhan yang ada, apabila ada
164 ribu perpustakaan, setidaknya ada 3000 perpustakaan yang membutuhkan system
Librarian, baik perpustakaan umum, khusus, dan Perguruan Tinggi.
Untuk hal ini, prodi ilmu
perpustakaan, perlu mengembangkan peminatan ini,. Setidaknya 30-50 % mahasiswanya
diarahkan memiliki keahlian sebagai system Librarian.
Kenapa bersifat peminatan? Karena
tidak seluruh mahasiswa berasal dari lulusan IPA ketika SMA nya atau memiliki
hobi yang berhubungan dengan TI.
System Librarian secara garis
besar adalah pustakawan atau pengelola informasi yang memiliki kompetensi
khusus terkait dengan bidang Teknologi dan Sistem Informasi. Mengenai
kompetensi yang perlu dimiliki, beragam literatur yang membahas hal ini cukup
banyak. Bahkan dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 2 Tahun 2021
tentang KKNI bidang Perpustakaan juga sudah memasukkan dalam salah satu okupasi
jabatan.
Dalam KKNI bidang Perpustakaan, terkait
system librarian ada dalam 2 jenjang, yaitu:
Jenjang Kualifikasi 6 : Pustakawan sistem pemula dan tenaga teknologi informasi perpustakaan
Jenjang
Kualifikasi 7 : Pustakawan sistem
mahir
Unit kompetensi yang perlu
dikuasai adalah sebagai berikut:
a.
Pustakawan Sistem Pemula
Deskripsi : Pustakawan yang bertanggung jawab untuk
mengelola teknologi informasi yang digunakan di Perpustakaan dengan
menggabungkan prinsip-prinsip kepustakawanan dan kemampuan teknologi komputer.
Adapun Kompetensi yang dibutuhkan sebagai berikut:
-
Menginstal
aplikasi otomasi perpustakaan
-
Membuat
website perpustakaan
-
Merancang
portal perpustakaan
-
Mengelola
struktur metadata
-
Melakukan
copy cataloguing berbasis computer
-
Menyusun rencana kerja dan anggaran
kegiatan perpustakaan
-
Merancang
system perpustakaan digital
-
Mengelola
repositori institusi
-
Mengelola
metadata koleksi digital
-
Menggunakan perangkat lunak pengolah
kata tingkat dasar
-
Menggunakan perangkat lunak presentasi
tingkat dasar
-
Menggunakan perangkat lunak pengolah
kata tingkat lanjut
-
Menggunakan perangkat lunak lembar kerja
tingkat lanjut
-
Menggunakan perangkat lunak pengakses
surat elektronik
-
Melakukan
instalasi sitem operasi
b.
Tenaga teknologi informasi perpustakaan
Deskripsi
: seorang pekerja di Perpustakaan yang tidak memiliki latar belakang Pendidikan
perpustakaan namun memiliki pengetahuan, pemahaman teknis tentang praktik serta
operasional perpustakaan dan dapat berkontribusi dalam kesehariannya khususnya
dalam penggunaan teknologi di Perpustakaan, seperti, jaringan internet,
pembuatan website, otomasi dan sebagainya.
Adapun kompetensi yang dibutuhkan terdiri dari:
-
Menginstal
aplikasi otomasi perpustakaan
-
Membuat
website perpustakaan
-
Merancang
portal perpustakaan
-
Mengumpulkan kebutuhan teknis pengguna
yang menggunakan jaringan
-
Mengumpulkan data peralatan jaringan dengan
teknologi yang sesuai
-
Merancang
penglamatan jaringan
-
Menyiapkan
kabel jaringan
-
Memasang
kabel jaringan
-
Memasang
jaringan nirkabel
-
Memasang jaringan ke dalam system
jaringan
-
Mengkonfigurasi
Switch pada jaringan
-
Mengkonfigurasi routing pada perangkat
jaringan dalam satu autonomous system
-
Memperbaiki
kerusakan konfigurasi jarigan
-
Memelihara
jaringan
-
Mengganti perangkat jaringan sesuai
dengan kebutuhan baru
-
Mengevaluasi jaringan computer untuk
pengembangan masa depan.
c.
Pustakawan Sistem Mahir
Deskripsi : Pustakawan yang memiliki tanggung jawab
dalam merencanakan, mengelola, dan mengembangkan sumber daya teknologi
informasi di Perpustakaan.
Unit kompetensi yang dibutuhkan terdiri dari:
-
Merancang
otomasi perpustakaan
-
Merancang
system perpustakaan digital
-
Mengelola
repositori institusi
-
Merancang
portal perpustakaan
-
Melakukan
kajian multidisiplin bidang kepustakawanan
-
Membuat
rencana strategis perpustakaan
-
Membuat
pedoman
-
Merancang pengelolaan sarana dan
prasarana perpustakaan
-
Melakukan
monitoring pelaksanaan pengelolaan perpustakaan
-
Menginstalasi
aplikasi portal perpustakaan
-
Membuat
produk multimedia untuk perpustakaan
-
Mengelola
e-resources
-
Mengelola
jurnal elektronik
-
Mengoptimalkan
kinerja sistem jaringan
-
Memelihara
jaringan
Dalam praktiknya, system Librarian di perpustakaan, harus
menguasai segala pernak-pernik tentang TI mulai dari hulu ke hilir atau sejak
perencanaan sampai evaluasi.
Mulai dari perencanaan, seorang system
Librarian harus mampu merancang sistem informasi perpustakaan dan Lembaga
informasi tidak hanya jangka pendek namun sampai jangka panjang. Mulai dari
kebutuhan servernya berapa besar dalam 10-15 tahun ke depan dengan memprediksi
perkembangan koleksi, jumlah pemustaka, transaksi yang terjadi, dan
perkembangan TI itu sendiri. Sampai dengan harga dan belinya di mana. Jadi,
kemampuan ini tidak sekadar di sisi teknis namun juga dari sisi konseptual dan
penganggaran, termasuk kemampuan untuk meyakinkan pimpinan atas perencanaan
yang disusun. Pada tahap perencanaan ini pula, seorang system Librarian harus
mampu juga membreak down secara detail perencanaan tahapan yg perlu
dikembangkan dalam hitungan tahun sampai pemeliharaan, pergantian perangkat dan
pengembangan software yang dibutuhkan.
Dalam tahap pelaksanaan, seorang
system Librarian dianggap tahu segala hal tentang TI, mulai dari pasang
jaringan, instalasi dan penyiapan komputer, instalasi software, instalasi web,
dan memperbaiki komputer skala ringan (IT Help Desk).
Selain itu, seorang system
Librarian diharapkan dapat membuat aplikasi database dan dapat pula
mengintegrasikan beragam software yang ada di perpustakaan untuk dijadikan
semacam portal atau menghubungkan dgn software lain seperti dengan bidang SDM,
keuangan, dan lainnya.
Pada tahap evaluasi, seorang
system Librarian diharapkan mampu mengevaluasi keberhasilan, kegagalan dan
penyebab serta tawan solusi yang diperlukan dalam pengembangan kebutuhan TI di
perpustakaan tersebut.
Besar kecilnya perpustakaan
berpengaruh terhadap kebutuhan System Librarian. Untuk Perpustakaan Kecil namun
fokus kepada Perpustakaan Digital, maka kompetensi berhubungan dengan
pengembangan situs, pengembangan aplikasi pangkalan data dan portal
perpustakaan, kemampuan penentuan aplikasi yang tepat untuk kebutuhan pengelola
perpustakaan serta pengelolaan server perpustakaan baik cloud dan intranet
sangat dibutuhkan. Adapun untuk Perpustakaan Besar, selain kebutuhan teknis
pada perpustakaan kecil, kemampuan manajerial terkait system informasi,
kemampuan jaringan system informasi, dan pengelolaan SDM sangat dibutuhkan.
Dengan demikian, system librarian
mahir tidak saja mampu secara teknis terkait teknologi informasi, namun
menguasai pula kemampuan manajerial dan kepemimpinan dalam pengembangan
perpustakaan, baik kebutuhan teknologi informasi perpustakaan secara umum maupun
pengembangan perpustakaan digital, termasuk apabila perpustakaan tersebut
bagian dari korporasi bisnis digital yang tentu saja kebutuhan TI nya jauh
lebih dominan.
Berdasarkan kebutuhan kompetensi
yang ada, maka peminatan terhadap system librarian ini memang sudah perlu
dibangun sejak tingkat 2 setidaknya setelah mereka memahami kondisi yang ada
terkait dengan bidang yang akan mereka tekuni, baik dalam konteks kelembagaan
perpustakaan maupun Lembaga yang terkait dengan pengelolaan informasi. Dalam
konteks kurikulum merdeka, hal ini relatif memungkinkan. Bahkan mahasiswa
layaknya mahasiswa kedokteran, dapat memperdalam kemampuan mereka dengan
belajar sebagai system librarian dengan syarat di perpustakaan memiliki system
librarian.
Selain itu, prodi ilmu
perpustakaan perlu memfasilitasi mahasiswa dengan adanya komunitas mahasiswa
yang tertarik dengan TI dan ada staf pengajar yang menjadi pembinanya. Mereka
diarahkan untuk aktif mengembangkan proyek-proyek TI di bidang ilmu perpustakaan
ataupun mengikuti kejuaran dan festival terkait TI sehingga mereka selalu
mendapatkan tantangan yang menarik terkait pengembangan TI di bidang
perpustakaan. Jangan lupa fasilitasi pula dengan dukungan lab computer yang
memadai.
Cibinong, 5 Agustus 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar