Minggu, 28 Juni 2020

Membangun Ruang Kerja di Rumah


Mendengar kebijakan pimpinan kantor WFH di perpanjang sampai akhir Juni, barulah terpikir harus benar-benar serius memiliki ruang kerja yang nyaman di rumah. Terlebih, setelah rapat Selasa lalu, ada rencana untuk mengembangkan konsep virtual office. Berhubung kantor bergerak di ranah riset dan pendidikan hukum yang memang tidak harus bekerja di kantor, terpenting ada laptop, ada jaringan internet, ada telepon, ada scanner, ada mesin fax (ini jarang dipakai sih, apalagi kondisi saat ini). Kebetulan seluruh perangkat ini ada di rumah.

Sedikit cerita tambahan, sebulan pertama kerja di rumah, yang ada lebih sibuk mengatasi ketakutan dan kepanikan sendiri terhadap Covid-19 ini. Susah tidur, sibuk lihat berita Covid-19 ditambah melihat rekaman kematian yang banyak beredar di berita dan media sosial makin kacaulah pikiran. Berhubung selama ini saya memiliki riwayat penyakit gejala paru-paru. Kalau sudah kena batuk, sering bunyinya bikin parno orang yang mendengarkannya. Terlebih beberapa kali menemani istri ke RS Persahabatan membesuk Tante yang terkena virus ini. Alhamdulillah, melihat Tante berhasil sembuh dan melihat adik yang bekerja di RS Persahabatan sehat wal afiat walau bekerja di RS tersebut kondisinya sehat (semoga Allah SWT selalu melindunginya) berangsur saya pun berhasil mengatasi kepanikan ini.

Kembali ke urusan ruang kerja, setelah mendengar kabar ada rencana WFH diperpanjang, terpikir nggak bisa seperti ini model kerja WFH ini. Syukurlah, mendadak ada ilham setelah kedatangan teman di rumah. Selama ini bekerja di rumah selalu nomaden. Kadang di ruang tamu, kamar anak, bahkan di dapur. Berhubung sudah di atas 40 tahun, kalau kelamaan bersila kaki sering kesemutan. Belum ditambah godaan lainnya, seperti main sama anak, nonton TV dan lain-lain. Kalau ada rapat virtual pun sering kebingungan, karena tidak ada tempat nyaman.

Kamar kemudian diubah setting-nya. Meja yang selama ini hanya jadi tumpukan barang di dapur, pun dipindahkan ke kamar. Kebetulan karena berlangganan akses Wi-Fi dan ada tambahan router, dimintalah ke pihak MyRepublic untuk menggunakan router tersebut. Jadilah ruang kerja yang nyaman deh, setidaknya versi saya pribadi.


Setelah ini, bersiap untuk mengembangkan konsep Perpustakaan Tanpa “Perpustakaan” atau Pustakawan tanpa “Perpustakaan”. Ini menjawab tantangan ke depan, apalagi kerja peneliti di kantor dengan konsep “Virtual Office” dan “Blended Learning” untuk proses pembelajaran di STHI, perpustakaan sudah harus siap dengan konsep Perpustakaan Tanpa “Perpustakaan” atau Pustakawan tanpa “Perpustakaan”.

Tidak ada komentar: