Minggu, 28 Juni 2020

PERPUSTAKAAN DAN PENGEMBANGAN PENERBITAN DIGITAL (E-PUBLISHING) BERBASIS KOMUNITAS


Every Book Its Reader

Ranganathan


Pengantar
Beberapa bulan yang lalu saya pernah mendampingi senior saya rapat persiapan Hari Pramuka di Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Ruang rapatnya disebut perpustakaan. Kebetulan karena ruangannya masih baru, terlihat hanya ada beberapa rak dan buku saja di ruangan tersebut. Yang lengkap malah alat untuk olahraganya.

Iseng-iseng setelah selesai rapat saya lihat-lihat buku yang ada di sana. Ternyata sebagian buku yang ada merupakan karya-karya siswa SMA. Sayang buku-buku tersebut tidak nampak Nomor ISBN-nya. Banyak karya-karya seperti ini hanya dicetak terbatas. Padahal, kalau memang ingin serius mengembangkan kemampuan menulis mayarakat, maka harus ada institusi, baik itu pemerintah, swasta dan masyarakat melalui komunitas yang ada untuk memfasilitasi tulisan ini agar dapat diakses lebih luas.

Ketika berbicara buku, maka idealnya ada pihak yang menerbitkan buku tersebut.Secara sederhana, ada beberapa kelompok penulis. Setidaknya yaitu:
1.      1.  Bagi para penulis yang memiliki anggaran cukup, biaya penerbitan buku karyanya relatif nggak terlalu jadi masalah, apalagi kalau penulis tersebut seorang pejabat atau pengusaha besar.
2. Adapula penulis yang karena memang profesinya, maka penulis tersebut bekerjasama dengan penerbit besar agar karyanya dapat dinikmati banyak orang dan berpengaruh terhadap penghasilan penulis tersebut.
3.   Berikutnya penulis yang merupakan kalangan akademisi atau peneliti. Tulisannya selain menjadi laporan penelitian atau modul mata kuliah yang diampunya, maka agar makin banyak yang mengetahui penelitian atau berkembang pembahasan perkuliahannya, maka penulis tersebut bekerjasama dengan penerbit agar karyanya banyak pula yang membacanya. Biasanya untuk penulis ini bekerjasama dengan penerbit kampus atau penerbit komersial yang memang banyak bergerak di ranah akademik.
4. Ada pula penulis yang karena tuntutan profesinya agar menghasilkan karya dalam bentuk tulisan khususnya buku, maka bukunya  diterbitkan oleh organisasi profesi atau komunitas.

Dari ke empat jenis penulis ini, tentu saja masing-masing memiliki standar nya masing-masing. Standar yang cukup ketat umumnya, adalah untuk penerbit komersial , penerbitan kampus atau lembaga riset. Adapun penerbitan profesi dan komunitas sangat tergantung dengan kemampuan menulis anggotanya masing-masing.

Tentu saja, sebagian besar penulis (apapun profesi utamanya) berharap karyanya diterbitkan oleh penerbit besar atau penerbit profesional. Kenapa? Karena kemungkinan karyanya dibaca oleh orang banyak lebih luas. Umumnya penerbit profesional akan berusaha buku yang diterbitkannya tersebut disebar ke berbagai toko buku besar, seperti  Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung misalkan. Namun, untuk mencapai kualitas penulis yang dilirik oleh penerbit besar tentu saja membutuhkan jam terbang yang tinggi, dikenal publik dan karyanya umumnya populer di masyarakat. Bagaimanapun penerbit profesional tentu harus berhitung apakah buku tersebut laku dipasaran atau tidak.

Lalu, bagaimana bagi anggota masyarakat yang baru mulai mencoba menghasilkan karya dalam bentuk buku?
Kalau melihat dari upaya memudahkan pengukuran literasi masyarakat yang dikembangkan Perpustakaan Nasional RI, ada 4 aspek yang menjadi ukuran penilaian keberhasilan literasi di masyarakat. Yaitu....

Dari ke empat aspek tersebut yaitu kemampuan menulis. Saat ini budaya menulis masyarakat sebenarnya relatif sudah ada potensi untuk dikembangkan. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, kemampuan menulis masyarakat sudah terlihat. Setidaknya apabila melihat postingannya di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, WA dan lain-lain, setidaknya ada tulisan yang mereka sampaikan. Dari pengalaman-pengalaman ini kemudian dikembangkan menjadi kemampuan menulis yang rinci, detail dan panjang, maka memungkinkan tulisan anggota masyarakat tersebut menjadi suatu karya dalam bentuk buku.

Tidak ada komentar: