Every Book Its Reader
Ranganathan
Pengantar
Beberapa bulan yang lalu saya pernah mendampingi senior saya
rapat persiapan Hari Pramuka di Kantor Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Ruang
rapatnya disebut perpustakaan. Kebetulan karena ruangannya masih baru, terlihat
hanya ada beberapa rak dan buku saja di ruangan tersebut. Yang lengkap malah
alat untuk olahraganya.
Iseng-iseng setelah selesai rapat saya lihat-lihat buku yang
ada di sana. Ternyata sebagian buku yang ada merupakan karya-karya siswa SMA.
Sayang buku-buku tersebut tidak nampak Nomor ISBN-nya. Banyak karya-karya
seperti ini hanya dicetak terbatas. Padahal, kalau memang ingin serius
mengembangkan kemampuan menulis mayarakat, maka harus ada institusi, baik itu
pemerintah, swasta dan masyarakat melalui komunitas yang ada untuk
memfasilitasi tulisan ini agar dapat diakses lebih luas.
Ketika berbicara buku, maka idealnya ada pihak yang
menerbitkan buku tersebut.Secara sederhana, ada beberapa kelompok penulis.
Setidaknya yaitu:
1. 1. Bagi para
penulis yang memiliki anggaran cukup, biaya penerbitan buku karyanya relatif
nggak terlalu jadi masalah, apalagi kalau penulis tersebut seorang pejabat atau
pengusaha besar.
2. Adapula penulis yang karena memang profesinya, maka penulis tersebut bekerjasama dengan penerbit besar agar karyanya dapat dinikmati banyak orang dan berpengaruh terhadap penghasilan penulis tersebut.
3. Berikutnya penulis yang merupakan kalangan akademisi atau peneliti. Tulisannya selain menjadi laporan penelitian atau modul mata kuliah yang diampunya, maka agar makin banyak yang mengetahui penelitian atau berkembang pembahasan perkuliahannya, maka penulis tersebut bekerjasama dengan penerbit agar karyanya banyak pula yang membacanya. Biasanya untuk penulis ini bekerjasama dengan penerbit kampus atau penerbit komersial yang memang banyak bergerak di ranah akademik.
4. Ada pula penulis yang karena tuntutan profesinya agar menghasilkan karya dalam bentuk tulisan khususnya buku, maka bukunya diterbitkan oleh organisasi profesi atau komunitas.
2. Adapula penulis yang karena memang profesinya, maka penulis tersebut bekerjasama dengan penerbit besar agar karyanya dapat dinikmati banyak orang dan berpengaruh terhadap penghasilan penulis tersebut.
3. Berikutnya penulis yang merupakan kalangan akademisi atau peneliti. Tulisannya selain menjadi laporan penelitian atau modul mata kuliah yang diampunya, maka agar makin banyak yang mengetahui penelitian atau berkembang pembahasan perkuliahannya, maka penulis tersebut bekerjasama dengan penerbit agar karyanya banyak pula yang membacanya. Biasanya untuk penulis ini bekerjasama dengan penerbit kampus atau penerbit komersial yang memang banyak bergerak di ranah akademik.
4. Ada pula penulis yang karena tuntutan profesinya agar menghasilkan karya dalam bentuk tulisan khususnya buku, maka bukunya diterbitkan oleh organisasi profesi atau komunitas.
Dari ke empat jenis penulis ini, tentu saja masing-masing
memiliki standar nya masing-masing. Standar yang cukup ketat umumnya, adalah
untuk penerbit komersial , penerbitan kampus atau lembaga riset. Adapun
penerbitan profesi dan komunitas sangat tergantung dengan kemampuan menulis
anggotanya masing-masing.
Tentu saja, sebagian besar penulis (apapun profesi utamanya)
berharap karyanya diterbitkan oleh penerbit besar atau penerbit profesional.
Kenapa? Karena kemungkinan karyanya dibaca oleh orang banyak lebih luas.
Umumnya penerbit profesional akan berusaha buku yang diterbitkannya tersebut
disebar ke berbagai toko buku besar, seperti
Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung misalkan. Namun, untuk mencapai
kualitas penulis yang dilirik oleh penerbit besar tentu saja membutuhkan jam
terbang yang tinggi, dikenal publik dan karyanya umumnya populer di masyarakat.
Bagaimanapun penerbit profesional tentu harus berhitung apakah buku tersebut
laku dipasaran atau tidak.
Lalu, bagaimana bagi anggota masyarakat yang baru mulai
mencoba menghasilkan karya dalam bentuk buku?
Kalau melihat dari upaya memudahkan pengukuran literasi
masyarakat yang dikembangkan Perpustakaan Nasional RI, ada 4 aspek yang menjadi
ukuran penilaian keberhasilan literasi di masyarakat. Yaitu....
Dari ke empat aspek tersebut yaitu kemampuan menulis. Saat
ini budaya menulis masyarakat sebenarnya relatif sudah ada potensi untuk
dikembangkan. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, kemampuan
menulis masyarakat sudah terlihat. Setidaknya apabila melihat postingannya di
media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, WA dan lain-lain, setidaknya
ada tulisan yang mereka sampaikan. Dari pengalaman-pengalaman ini kemudian
dikembangkan menjadi kemampuan menulis yang rinci, detail dan panjang, maka
memungkinkan tulisan anggota masyarakat tersebut menjadi suatu karya dalam
bentuk buku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar