Rabu, 24 September 2008

Pustakawan : dari urusan lobbying sampai tukang sapu

Pekerjaan yang lumayan multi fungsi pada perusahaan yagn tidak besar adalah pustakawan. Kalau perusahaannya kecil, pasti perpustakaannya kecil juga. Nah, begitulah yang saya alami.

Perpustakaan tempat saya bekerja, mungkin kalau dikategorikan dalam dunia perpustakaan, dapat dikatakan perpustakaan kecil, berhubung koleksi bukunya belum mencapai 30.000 judul. Berhubung kecil, jadi stafnya juga cuma 2 orang, Mulai Oktober sudah nggak kerja lagi, berhubung mau menyelesaikan skripsi. Jadi, tinggal 1, itupun statusnya beda perusahaan dengan kebijakan manajemen yang berbeda pula. Walhasil, dalam pengelolaan staf pun terbatas pembagian tugas belaka. Ketika ada ide-ide baru dan tambahan kerja baru, dipastikan mengalami kendala SDM.

Begitu pula besok ini. Setelah dalam beberapa minggu ini bermain-main sebagai kepala perpustakaan, besok tambah pekerjaan, mengelola mesin foto copy. Kenapa disebut mengelola, bukankah hanya pindah tempat itu mesin?

Itu teorinya. Prakteknya bisa berbeda. Secara de facto memang itu mesin saat ini dikelola oleh OB kantor, tapi secara de yure, tidak ada yang mengatur hal itu. Praktis, si OB, yang notabene secara usia dan kedekatan dengan para pengambil kebijakan kantor lebih senior, dengan mudah melepaskan tugasnya itu.

Maka, setelah lebaran, rasanya pekerjaan akan semakin rumit. Setelah sebelumnya, saya yang harus sering rajin-rajin merapikan perpustakaan berhubung perpustakaan terbuka untuk umum, bertambah pula urusan mesin foto copy. Jadilah, pekerjaan jadi lebih rumit.

Tapi, kenapa pakai kata rumit, bukannya berat? Berat itu lebih kepada proses atau pelaksanaannya membutuhkan seluruh energi yang ada agar dapat terselesaikan. Kalau rumit, pekerjaannya sih tidak terlampau sulit, tapi berhubung banyak yang dikerjakan maka jadi rumit. Ya, rumit membagi waktu, rumit bagaimana agar terselesaikan seluruhnya dengan baik, dan rumit karena makin bodoh saja, karena tidak ada unsur intelektual yang dibutuhkan.

Mengeluh? tidak juga. Anggap saja jadi tantangan. Tapi, yang jadi pertanyaan, kenapa itu si OB akhir-akhir ini mukanya bete sama saya ya, padahal seharusnya dia kan bahagia kalau pekerjaan berkurang....

Wallahu a'lam.

Senin, 22 September 2008

Tidak Perlu Serius Membacanya

Kadangkala berada ditimbunan sumber informasi itu belum tentu seseorang itu menjadi cerdas. Begitu pula seorang pustakawan. Bukannya makin pintar, malah makin aneh, kalau tidak dibilang bodoh. Misalkan, seorang Farli yang sekarang ini menjadi makin minder karena makin bodoh dalam berbicara bahasa Inggris. Alasannya, terlalu cinta dengan bahasa Indonesia. Padahal alasan sebenarnya, tidak bisa.

Oleh karena itu, biar otak terus berjalan seorang pustakawan itu perlu juga menulis. Ya, tidak harus ilmiah lah. Yang garing-garing dan tidak bermutu pun perlu ditulis rasanya. Kan, masih jarang yang menuliskan pengalaman hidup seorang pustakawan. Yang sebenarnya hidupnya juga terbaca mau jadi apa.

Jadi, berhubung tidak terlalu keren dan bermutu tulisannya, kalau ternyata terbaca, jangan terlalu serius ya menanggapinya. Dan jangan terlalu sakit hati kalau ternyata tersebut-sebut dalam celoteh ini.

So, mari menulis.....